<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kedokteran</title>
	<atom:link href="http://kedokteran.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kedokteran.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Oct 2007 05:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kedokteran.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kedokteran</title>
		<link>http://kedokteran.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kedokteran.wordpress.com/osd.xml" title="Kedokteran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kedokteran.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kesehatan Mental yang Merana</title>
		<link>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/10/kesehatan-mental-yang-merana/</link>
		<comments>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/10/kesehatan-mental-yang-merana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 05:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/10/kesehatan-mental-yang-merana/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana dengan bom bunuh diri yang dilakukan para teroris? Sangat mungkin itu adalah perilaku bunuh diri murni yang dibungkus dalih agama. Banyak kaum radikal yang ternyata mengalami kehidupan depresif sebelumnya. Hal itu diungkap seorang pembicara dari Pakistan dalam kongres dunia tentang prevensi bunuh diri di Irlandia awal September lalu. Audiensi terenyak. Pernyataan itu mengingatkan, masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=5&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana dengan bom bunuh diri yang dilakukan para teroris? Sangat mungkin itu adalah perilaku bunuh diri murni yang dibungkus dalih agama. Banyak kaum radikal yang ternyata mengalami kehidupan depresif sebelumnya. Hal itu diungkap seorang pembicara dari Pakistan dalam kongres dunia tentang prevensi bunuh diri di Irlandia awal September lalu. Audiensi terenyak. </p>
<p>Pernyataan itu mengingatkan, masalah terorisme tidak bisa hanya diselesaikan lewat pendekatan keamanan dan keagamaan. Konyol rasanya bila kita masih menafikan pendekatan multifaktorial sebagai acuan aneka persoalan di negeri ini. Kesehatan mental, salah satunya, sering tak dilihat sebagai faktor yang mendesak diselesaikan. Padahal berbagai masalah yang menyiratkan menurunnya kualitas hidup sering mengalir dari pusaran ini. <span id="more-5"></span></p>
<p>Ambil contoh, angka kejadian bunuh diri yang meningkat di seluruh dunia, termasuk di Pakistan, yang 97 persen penduduknya beragama Islam dan dianggap &#8220;patuh&#8221; menjalankan ajaran agama. Kenyataannya, angka kejadian bunuh diri melonjak dari kisaran ratusan menjadi ribuan per tahun dan dalam satu dekade terakhir, lebih dari sepuluh kali. Padahal Islam sudah memberi aturan hukum yang jelas dan teruji sebagai alat penangkal (deterrent) yang potensial mencegah perilaku bunuh diri. </p>
<p>Sebuah studi panjang membeberkan rendahnya angka bunuh diri di kalangan penduduk Muslim dibandingkan dengan non-Muslim, dan ditengarai kuat, Islam merupakan faktor independen sebagai alat pencegah tindakan mengakhiri hidup ini (Sampson &amp; Conklin, 1989). Namun, mengapa lantas berubah? </p>
<p>Apa daya, di tengah gemuruh globalisasi yang mengubah tatanan sosial-ekonomi dunia yang menuntut sikap proaktif, gerak cepat, dan kompetitif, mereka yang menggunakan agama sebatas ketaatan ritual dan superfisial (tidak meresap menjadi inner quality) akan tergilas zaman menjadi kaum marjinal. Mereka gamang dan takluk berhadapan dengan deterioriasi kehidupan sosioekonominya. Ada ketidakberdayaan, memilih menghindar, atau melarikan diri dari masalah, lalu terjerembab ke dalam kubangan depresi yang bisa jadi memunculkan ide kematian untuk diri sendiri atau orang lain. </p>
<p>Menghadapi kondisi ini, di tengah kemiskinan dan kebodohan, ditambah kondisi kesehatan mental yang buruk, Pakistan ternyata masih mempertahankan anggaran pertahanan keamanan jauh di atas anggaran kesehatan ataupun pendidikan. </p>
<p>Budaya tak antisipatif </p>
<p>Bagaimana di Indonesia? Rasanya tak jauh berbeda. Negeri ini mempunyai kemiripan dengan Pakistan, terutama kesamaan agama dan budaya yang menganggap bunuh diri sebagai perilaku amat negatif, apa pun alasannya. Namun, kita baru merasakan, belum bisa melihat angka pasti, karena kita selalu lemah dalam penelitian Sekali lagi, kita kurang mempunyai &#8220;budaya&#8221; antisipatif yang rasional. </p>
<p>Coba tengok, meski lebih unggul daripada Pakistan, pada tahun 2007, untuk sektor kesehatan, pemerintah hanya memberi anggaran 2,26 persen dari APBN, kurang dari separuh jumlah anggaran Departemen Pertahanan dan Polri. Belum lagi dana yang dialirkan untuk kesehatan mental yang dapat diduga cuma mendapat porsi amat mungil. Padahal WHO dan Bank Dunia sudah wanti-wanti, beban utama penyakit (the global disease burden) di seluruh dunia pada tahun 2020 akan bergeser pada masalah kesehatan mental (terutama depresi) yang berlomba dengan penyakit jantung dan pembuluh darah. Dan Indonesia mendapat sorotan tajam karena kerentanannya. Kapan kita mulai bergerak nyata? Ini masalah bangsa ke depan yang sekarang pun mulai terasa gejalanya. </p>
<p>&#8220;Penyakit&#8221; korupsi, misalnya, jarang dilihat sebagai masalah kesehatan mental yang serius. Pelaku korupsi adalah orang-orang yang kalah dalam persaingan meraih prestasi kemanusiaan dan memilih jalan pintas sebagai cara menyelesaikan masalah, mirip mekanisme perilaku bunuh diri. Dari perspektif lain, korupsi merupakan salah satu bentuk delinquency yang mengandung unsur kekerasan tersamar terhadap kemanusiaan. </p>
<p>Soal lain, pendekatan budaya kita yang cenderung melihat penyebab suatu masalah atau penderitaan selalu ada di luar dirinya. Pola pikir primitif model &#8220;menyalahkan hal di luar dirinya&#8221; sudah ada sejak dulu. Di Jawa, misalnya, mencari penyebab bencana atau pagebluk bersumber pada obyek lain yang bisa disalahkan. Bukannya mencari akar masalah &#8220;dari dalam&#8221; yang mungkin disebabkan perilaku hidup masyarakat yang tidak sehat. Banyaknya bencana akhir-akhir ini juga sering disikapi dengan menyalahkan keadaan atau sebaliknya menyalahkan diri berlebihan (self-blame). Sikap mengantisipasi keadaan pun terlambat. </p>
<p>Tentang kesurupan </p>
<p>Tak dapat dimungkiri, ketika sedang mengalami penderitaan, orang cenderung lebih lengket dengan budaya atau keyakinan dan nilai-nilai yang sudah akrab sebelumnya dibandingkan dengan saat dalam kondisi biasa. Misalnya, bagaimana menyikapi fenomena kesurupan yang melanda remaja dan menggejala di seluruh negeri, pendekatan mistik-agama lebih menonjol. Padahal dasarnya adalah masalah kesehatan mental yang tak sepele. </p>
<p>Hal ini diperparah tayangan media (terutama televisi) yang kerap tidak memberi pencerahan wawasan. Atau membanjirnya suguhan tayangan yang justru mempercepat pembodohan masyarakat dengan membangun persepsi keliru pada hal-hal yang seharusnya bisa dijabarkan dengan akal sehat. </p>
<p>Padahal peran media amat penting. Mengacu teori pembelajaran sosial, sebenarnya media mampu mengubah dan membentuk persepsi baru dengan menghadirkan model yang bisa diidentifikasi masyarakat (sebagai imitator) serta bisa memperkuat atau memperlemah perilaku tertentu di masyarakat. Dengan paparan informasi terus-menerus, media amat ampuh berfungsi sebagai kontrol sosial sekaligus mengenalkan perilaku baru yang lebih positif. </p>
<p>Kesehatan mental tak urung menjadi mitra yang semestinya ditengok bagi penyelesaian komprehensif masalah bangsa yang kian karut-marut, bukan menjadi anak tiri seperti sekarang ini. Inilah refleksi bagi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia hari ini. </p>
<p>Nalini Muhdi Psikiater dan Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Pusat dan Surabaya </p>
<p>Nalini Muhdi / Kompas</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedokteran.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedokteran.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedokteran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedokteran.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=5&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/10/kesehatan-mental-yang-merana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Penglihatan Sedunia, Rehabilitasi agar Mandiri</title>
		<link>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/hari-penglihatan-sedunia-rehabilitasi-agar-mandiri/</link>
		<comments>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/hari-penglihatan-sedunia-rehabilitasi-agar-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2007 05:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/hari-penglihatan-sedunia-rehabilitasi-agar-mandiri/</guid>
		<description><![CDATA[Para penyandang tunanetra masih mengalami diskriminasi dalam berbagai ruang kehidupan. Untuk itu, perlu ada upaya rehabilitasi disertai peningkatan akses pendidikan serta teknologi informasi dan komunikasi bagi penyandang tunanetra. Menurut Tolhas Damanik, konselor dari Yayasan Mitra Netra, dalam diskusi mengenai masalah kebutaan di Indonesia yang diprakarsai bank Standard Chartered untuk memperingati Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=4&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para penyandang tunanetra masih mengalami diskriminasi dalam berbagai ruang kehidupan. Untuk itu, perlu ada upaya rehabilitasi disertai peningkatan akses pendidikan serta teknologi informasi dan komunikasi bagi penyandang tunanetra. <span id="more-4"></span></p>
<p>Menurut Tolhas Damanik, konselor dari Yayasan Mitra Netra, dalam diskusi mengenai masalah kebutaan di Indonesia yang diprakarsai bank Standard Chartered untuk memperingati Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, Kamis (4/10) petang, secara tidak sadar masyarakat mendiskriminasikan tunanetra karena memfokuskan pada kelemahannya. &#8220;Rasa kasihan malah membuat tunanetra tidak berdaya dan dianggap tidak produktif,&#8221; ujarnya. </p>
<p>Untuk memandirikan penyandang tunanetra, kata Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra Bambang Basuki, menambahkan, perlu adanya upaya rehabilitasi. Hal ini untuk mengurangi atau menghilangkan dampak ketunanetraannya. Salah satu upaya rehabilitasi adalah konseling untuk memulihkan keseimbangan jiwanya dan memahami hakikat ketunanetraannya, terutama pada penyandang tunanetra yang mengalami kebutaan pada usia dewasa. Upaya semacam itu diperlukan agar mereka tidak menjadi manusia tanpa harapan. </p>
<p>Orientasi mobilitas </p>
<p>Rehabilitasi itu juga dilakukan dengan pelatihan orientasi dan mobilitas agar dapat bergerak dan melakukan kegiatan dengan aman. Adapun pelatihan dan peralatan atau layanan khusus untuk mengakses informasi bagi orang dengan kemampuan penglihatan rendah perlu dilakukan untuk meningkatkan fungsi sisa penglihatan, seperti pembesaran huruf atau gambar, kontras dan pencahayaan. </p>
<p>Akses pendidikan bagi kalangan tunanetra juga perlu dibuka, baik di sekolah luar biasa maupun reguler. Akan tetapi, di sekolah reguler, para penyandang tunanetra butuh layanan advokasi dan pendampingan belajar. (EVY) Kompas</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedokteran.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedokteran.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedokteran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedokteran.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=4&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/hari-penglihatan-sedunia-rehabilitasi-agar-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pasien Meninggal Bertambah</title>
		<link>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/pasien-meninggal-bertambah/</link>
		<comments>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/pasien-meninggal-bertambah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2007 05:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flu Burung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/pasien-meninggal-bertambah/</guid>
		<description><![CDATA[Pasien terduga flu burung di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, LT (44)—bukan nama sebenarnya—meninggal dunia Jumat (5/10) pagi. LT meninggal setelah sebelumnya mengalami sesak napas berkepanjangan yang berujung pada gagal napas. Dr Azizman Saad, Ketua Tim Penanggulangan Penyakit Flu Burung RSUD Arifin Achmad, yang dihubungi kemarin, mengatakan, berdasar ciri-ciri patologis sebelumnya, LT sangat berpotensi terjangkit flu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=3&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pasien terduga flu burung di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, LT (44)—bukan nama sebenarnya—meninggal dunia Jumat (5/10) pagi. LT meninggal setelah sebelumnya mengalami sesak napas berkepanjangan yang berujung pada gagal napas. <span id="more-3"></span></p>
<p>Dr Azizman Saad, Ketua Tim Penanggulangan Penyakit Flu Burung RSUD Arifin Achmad, yang dihubungi kemarin, mengatakan, berdasar ciri-ciri patologis sebelumnya, LT sangat berpotensi terjangkit flu burung. Dari uji klinis dan pengamatan rontgen, banyak bercak putih di paru-parunya. </p>
<p>&#8220;Meski demikian, kami masih menunggu hasil uji Laboratorium Balitbangkes di Jakarta untuk memastikan,&#8221; ujar Azizman. </p>
<p>Dia mengatakan, LT terlambat ditangani tim dokter RSUD Arifin Achmad. Pasien dari Kompleks Perumahan PT Chevron Pasific Indonesia Rumbai itu sudah dirawat di RS Awal Bros, Pekanbaru, selama beberapa hari. </p>
<p>Karena panas tubuhnya tidak kunjung turun dan gejalanya semakin menunjukkan penyakit flu burung, dia dirujuk ke RSUD Pekanbaru. </p>
<p>Saat uji klinis dilakukan, leukositnya 2.230 (normal 4.000- 10.000) dan trombosit 90.000 ($&gt;150.000) serta panas tubuh 38,5 derajat Celsius (36,8 °C). </p>
<p>Napasnya 40 kali per menit dan denyut nadi 110 kali per menit. Pada Kamis (4/10) malam, dia dipasangi alat bantu pernapasan. Namun, menjelang pagi LT semakin sesak bernapas dan tidak tertolong lagi. </p>
<p>Setelah LT meninggal, kemarin, tim dokter RSUD Arifin Achmad mengambil sampel apus hidung dan tenggorokan untuk uji laboratorium di Jakarta. &#8220;Kami sudah mengirimkan sampel itu ke Jakarta,&#8221; kata Azizman. </p>
<p>Saat ini, RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tengah menangani satu pasien flu burung, yakni Resti Stevani (5), warga Pasir Putih, Siak Hulu, Kampar, yang masuk Kamis kemarin. </p>
<p>Resti sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Santa Maria Pekanbaru, namun karena suhu tubuhnya tidak kunjung turun, dia langsung dirujuk ke RSUD Pekanbaru. </p>
<p>Jumat kemarin, kondisi Resti sudah membaik. Suhu tubuhnya yang sebelumnya mencapai 39 derajat Celsius sudah menurun sampai 37 °C. </p>
<p>&#8220;Demamnya sudah turun dan semoga kondisinya semakin membaik,&#8221; kata Azizman. </p>
<p>Termasuk LT, kini sudah empat korban yang meninggal terkait flu burung di Pekanbaru. </p>
<p>Tiga di antaranya sudah pasti terjangkit sementara status LT masih menunggu hasil laboratorium. Kasus flu burung terakhir menyebabkan kematian Gerhat Saragih (33) pada 6 September 2007. (SAH) Kompas</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedokteran.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedokteran.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedokteran.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedokteran.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=3&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/06/pasien-meninggal-bertambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/02/hello-world/</link>
		<comments>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/02/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 10:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=1&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedokteran.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedokteran.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedokteran.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedokteran.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedokteran.wordpress.com&amp;blog=1830114&amp;post=1&amp;subd=kedokteran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedokteran.wordpress.com/2007/10/02/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
